Alexander the Great versus Darius III: Pertempuran Besar di Issus
Temukan informasi tentang Alexander the Great versus Darius III: Pertempuran Besar di Issus, hanya di blog Sejarah Kuno.
Pertempuran Issus, yang terjadi pada tahun 333 SM, adalah salah satu konfrontasi paling dramatis dalam sejarah militer dunia. Pertempuran ini mempertemukan dua tokoh besar: Alexander the Great dari Makedonia dan Darius III dari Persia. Hasil dari pertempuran ini tidak hanya mengubah nasib kedua pemimpin tetapi juga menentukan arah sejarah dunia kuno.
Latar Belakang Pertempuran
Alexander the Great, yang naik tahta Makedonia pada usia 20 tahun setelah kematian ayahnya, Raja Philip II, memulai kampanye militer yang ambisius untuk menaklukkan Kekaisaran Persia yang luas. Pada tahun 334 SM, ia melintasi Hellespont (Dardanella) ke Asia Kecil dan mulai mengalahkan pasukan Persia dalam serangkaian pertempuran.
Setelah memenangkan Pertempuran Granicus pada tahun 334 SM, Alexander bergerak ke selatan menuju kota-kota pesisir untuk mengamankan rute suplai lautnya. Sementara itu, Darius III, raja Persia, mulai mengumpulkan pasukan besar untuk menghentikan kemajuan Alexander. Kedua pasukan akhirnya bertemu di dekat kota Issus, yang terletak di wilayah Cilicia, Asia Kecil.
Kekuatan dan Strategi Kedua Pasukan
Alexander memimpin pasukan Makedonia yang terdiri dari sekitar 40.000 prajurit, termasuk infanteri falangs, kavaleri, dan pemanah. Pasukannya terlatih dengan baik dan disiplin tinggi, dengan Alexander sendiri sebagai pemimpin yang karismatik dan ahli strategi.
Di sisi lain, Darius III memimpin pasukan Persia yang jauh lebih besar, diperkirakan antara 60.000 hingga 100.000 prajurit, termasuk infanteri, kavaleri, dan unit-unit dari berbagai bagian kekaisaran yang luas. Meskipun memiliki keunggulan dalam jumlah, pasukan Persia terdiri dari banyak kontingen yang berbeda dengan tingkat koordinasi yang kurang dibandingkan dengan pasukan Makedonia.
Pertempuran Issus
Pertempuran Issus dimulai ketika Alexander memimpin pasukannya ke lembah sempit dekat Sungai Pinarus, di mana pasukan Persia telah mengambil posisi. Alexander menyusun pasukannya dengan falangs di tengah dan kavaleri di sayap kanan, sementara pasukan ringan dan pemanah ditempatkan di sayap kiri.
Alexander segera menyadari bahwa medan pertempuran yang sempit akan mengurangi keuntungan numerik pasukan Persia. Ia memerintahkan serangan langsung ke pusat garis pertahanan Persia, dengan dirinya memimpin kavaleri Companions dalam serangan berani ke sayap kiri musuh.
Serangan ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan di barisan Persia, sementara falangs Makedonia terus menekan maju. Darius III, yang berada di kereta perang di tengah barisan, melihat pasukannya mulai runtuh dan memutuskan untuk melarikan diri dari medan pertempuran.
Dampak dan Akibat
Kemenangan Alexander di Issus adalah pukulan telak bagi Kekaisaran Persia. Pasukan Persia mengalami kerugian besar, dan banyak anggota keluarga kerajaan Persia, termasuk ibu, istri, dan anak-anak Darius, ditangkap oleh Alexander.
Setelah pertempuran, Alexander menunjukkan kebesaran hatinya dengan memperlakukan tawanan kerajaan Persia dengan hormat. Kemenangan ini juga memperkuat reputasi Alexander sebagai penakluk tak terkalahkan dan membuka jalan bagi penaklukan lebih lanjut di seluruh wilayah Persia.
Kekalahan di Issus memaksa Darius III untuk mundur lebih jauh ke dalam wilayah Persia dan mencoba mengumpulkan kembali kekuatannya. Namun, moral pasukannya telah terpukul, dan Alexander melanjutkan kampanye militernya tanpa hambatan signifikan.
Warisan Pertempuran Issus
Pertempuran Issus adalah salah satu contoh paling menonjol dari kecerdikan militer dan keberanian Alexander the Great. Keberhasilannya melawan pasukan yang lebih besar dan lebih kuat secara numerik menunjukkan keunggulan taktik dan strategi Makedonia.
Kemenangan ini juga merupakan langkah penting dalam jatuhnya Kekaisaran Persia dan penyebaran budaya Helenistik di seluruh wilayah yang luas. Setelah kematian Alexander, wilayah yang ia taklukkan terpecah menjadi kerajaan-kerajaan Helenistik yang terus membawa pengaruh budaya Yunani ke berbagai belahan dunia.
Kesimpulan
Pertempuran Issus bukan hanya bentrokan antara dua pemimpin besar, tetapi juga titik balik dalam sejarah dunia kuno. Keberanian dan keahlian militer Alexander the Great di medan pertempuran mengukuhkan posisinya sebagai salah satu jenderal terbesar sepanjang masa. Kekalahan Darius III di Issus menandai awal dari akhir Kekaisaran Persia dan permulaan era baru di bawah pengaruh Helenistik yang dibawa oleh penaklukan Alexander.
